Selasa, 23 Agustus 2011

Dana Pendidikan, Siap!

Kebutuhan bersekolah tak bisa mengunggu. Bagaimana cara menyiapkannya dana untuk menyekolahkan anak? Tenang, baca dulu strategi dari Mike Rini Sutikno untuk menentukan target tabungan pendidikan anak Anda.

Anda mungkin sadar tingginya biaya pendidikan saat ini, tapi lupa memperkirakan berapa besarnya Biaya Pendidikan kelak. Itu sebabnya, sering orangtua merasa sudah menabung, tetapi tetap kekurangan dana. Target dana pendidikan yang dibutuhkan sama dengan perkiraan biaya pendidikan kelak, dan untuk memperkirakannya, lakukan 2 hal berikut :
  1. Cari informasi berapa biaya saat ini untuk masing-masing jenjang pendidikan yang akan dilalui anak Anda –mulai TK, SD, SMP, SMA hingga universitas.
  2. Kalikan dengan asumsi kenaikan Biaya Pendidikan per tahun sampai anak Anda masuk sekolah. Misalnya biaya uang masuk SD saat ini adalah Rp. 5 juta dan anak Anda akan masuk SD 4 tahun lagi, sedangkan asumsi rata-rata kenaikan biaya pendidikan pertahun yang  adalah 10%, maka jumlah biaya pendidikan kelak adalah = Rp. 5.000.000 x (1 + 10%)4 = Rp 7.320.500,-  (menggunakan rumus Nilai Masa Depan atau Future Value). 
  3. Persiapan dana pendidikan anak sebaiknya dimulai sejak anak lahir. Anda memiliki waktu yang panjang untuk mengumpulkan dana dan semakin ringan setoran dananya. Menyiapkannya sejak dini juga membantu Anda bila menghadapi hal-hal tak terduga, seperti krisis ekonomi atau bencana alam, sehingga Anda dapat melakukan perbaikan dengan leluasa.
  4. Bila anak lebih dari satu, alokasikan setoran dana pendidikan anak secara paralel –bersamaan, sambung menyambung– dengan jumlah proporsional sesuai kebutuhan ke masing-masing dana pendidikan anak. Jangan menunggu anak pertama menyelesaikan masa pendidikannya, baru kemudian mulai persiapan dana pendidikan anak ke dua dan seterusnya.

Mengatur Pos Pengeluaran dan Tabungan

Bagaimana merancang keuangan keluarga agar tiap bulan tidak hanya habis untuk pengeluaran bulanan, tapi bisa juga disisihkan untuk ditabung? Ligwina Hananto, Konsultan perencana keuangan, pendiri dan CEO Quantum Magna Financial yang selalu aktif dan ‘berisik’ pada keinginannya untuk menyehatkan keuangan keluarga kelas menengah Indonesia akan menjawab pertanyaan ini untuk Anda.

Tanya: Bagaimana merancang keuangan keluarga agar tiap bulan tidak hanya habis untuk pengeluaran bulanan, tapi bisa juga disisihkan untuk ditabung dan investasi?

Jawab: Pertama, kita harus punya anggaran dulu. Kalau kita tidak tahu ke mana perginya uang setiap bulan, tentu kita tidak bisa mengendalikan uang tersebut. Ada 4 kategori besar pos pengeluaran setiap bulan. (1) Menabung atau  Investasi Rutin, (2) Cicilan, (3) Pengeluaran Rutin, (4) Pengeluaran Lifestyle/Pribadi. Untuk membuat anggarannya, catat hal ini: 

Pertama
, jangan tunggu "sisa" setiap bulan untuk menabung atau investasi –mulailah dengan komitmen menabung atau investasi secara tetap. Bukan jumlah nominal yang jadi target, tetapi presentasenya. Potong dulu 10%-30% dari penghasilan –begitu Anda menerimanya–  alokasikan untuk tabungan atau investasi. Dengan cara ini, berapa pun besarnya gaji/penghasilan, jika jumlahnya meningkat setiap tahun, besarnya komitmen bisa ditingkatkan.

Kedua
, tetapkan tujuan finansial. Bisa dari pengeluaran lifestyle seperti tujuan beli tas, atau langsung tujuan primer, seperti dana pendidikan. Ini penting karena menentukan arah. Saat menabung/investasi tanpa tujuan finansial, kita akan kehilangan arah dan mulai sabotase upaya menabung.       

Ketiga
, catat ini: There's no such thing as "pengeluaran tak terduga". Jadi, anggarkan semuanya. Supaya bila misalnya ada kerabat yang  menikah, sudah memang ada dana untuk hadiah. Bisa juga dengan menyiapkan “Dana Darurat” –bila ada kondisi yang benar-benar darurat, sehingga tidak akan mengganggu pos pengeluaran bulanan yang sudah disusun rapi.

Persiapan Biaya Sekolah Anak dari Reksadana

Dana sekolah anak diantaranya bisa diperoleh dari investasi yang uangnya dikelola oleh sebuah perusahaan manajemen investasi. Laporan perkembangan reksadana ini akan dikirim setiap satu atau beberapa bulan sekali.

Reksadana ada beberapa jenis, jadi dapat digunakan secara berkala sesuai dengan jangka waktu jenjang pendidikan tiap anak. Reksadana dapat digunakan untuk melawan inflasi pendidikan yang tinggi. Reksadana juga dapat dibeli kapan saja dan dicairkan kapan saja sesuai ketentuan yang berlaku di prospektus.

Reksadana ini produk yang teregulasi dengan sangat baik oleh Bapepam-LK sehingga para pihak yang terlibat dapat mempertanggungjawabkan tindakannya. Setiap jenis reksadana memiliki risiko dan hasil investasi yang berbeda-beda. Jenis  reksadana  antara lain,  pasar uang, pendapatan tetap, saham. Ada juga reksadana terproteksi dan reksadana penyertaan terbatas.

Reksadana merupakan produk investasi jangka panjang yang memberikan hasil investasi yang tinggi. Investasi jenis ini cocok untuk persiapan dana pendidikan anak-anak Anda, dengan catatan dana tidak akan dibutuhkan dalam waktu dekat. 

Persiapan Dana Pendidikan Anak dari Properti

Persiapan pendidikan anak bisa dari membeli tanah atau rumah. Dua jenis investasi ini hasilnya cukup besar, meski baru bisa dinikmati dalam waktu panjang. Anda bisa membeli properti dengan perhitungan akan menjualnya 7 atau 10 tahun mendatang saat harganya sudah tinggi.

Artinya properti itu dibeli ketika anak masih kecil dan direncanakan untuk masuk PT. Bisa juga dengan menyewakan properti tersebut. Hasil sewanya bisa digunakan untuk biaya pendidikan bulanan. Yang perlu diingat adalah menjual properti butuh waktu, sulit terjual dalam waktu 2 hari.

Rumah atau tanah adalah properti yang baik. Namun harus diingat, memiliki tanah akan lebih menguntungkan karena Anda tidak perlu mengeluarkan dana tambahan untuk perawatan. Sedangkan rumah atau apartemen, Anda harus mengeluarkan dana ekstra untuk perawatan. Rumah yang tidak dirawat akan cenderung rusak dan menjatuhkan harga.  

Memiliki properti merupakan investasi jangka panjang karena Anda akan membutuhkan waktu untuk menjual properti, karenanya untuk dana pendidikan, investasi properti akan cocok apabila uang pendidikannya Anda butuhkan masih lama, paling tidak sepuluh tahun mendatang.
Siapkan Deposito untuk Sekolah Anak
Hampir sama dengan menabung, deposito adalah menyimpan uang di bank, tapi bunganya lebih besar yaitu sekitar 6% per tahun. Hanya saja bank mensyaratkan jumlah minimal untuk bisa membuka deposito yaitu Rp  8.000.000. Anda tak bisa mengambil uang kapan saja seperti tabungan. Uang yang didepositokan tak bisa ditarik untuk jangka waktu tertentu, 1 bulan, 3 bulan atau 1 tahun. Dana deposito bisa digunakan untuk kebutuhan jangka pendek seperti uang les.

Untuk membuka deposito memang tidak ada keharusan kapan waktunya. Namun ada baiknya sejak balita Anda sudah memilikinya. Sisihkan 10% dari pendapatan setiap bulannya kemudian bila dana sudah mencukupi bukalah deposito. Semakin besar jumlah uang yang Anda depositokan tentu akan semakin besar pula dana yang Anda terima setiap bulannya.

Jika Anda ingin dana deposito bertambah, buatlah deposito dalam bentuk auto roll over, artinya bunga yang diterima setiap bulannya ditambah ke dalam jumlah dana deposito sehingga setiap bulan dana deposito bertambah jumlahnya.

Contohnya, Anda punya deposito Rp 100.000.000. Setiap bulan bunga yang diterima sebesar Rp 500.000 sehingga jumlah menjadi Rp 100.500.000. Bulan depannya jumlah Rp 100.500.000 akan dibungakan lagi. Demikian setiap bulannya.

Baca juga:

Investasi Tabungan Demi Pendidikan Anak

Menyimpan dana investasi dalam tabungan boleh jadi paling popular karena prosesnya mudah, membuat rekening di bank dan menyimpan sejumlah dana.

Keuntungan dari menabung adalah tidak terikat oleh waktu, Anda bisa menarik dana kapan saja. Dananya bisa digunakan untuk uang pangkal, SPP,  les, dan kebutuhan lain yang sifatnya rutin.

Sisihkan sekitar 10% setiap bulan dari pendapatan untuk ditabung. Sebaiknya Anda memiliki rekening tersendiri (tidak dicampur dengan rekening yang digunakan untuk pengeluaran sehari-hari) khusus untuk tabungan pendidikan.

Namun perlu diingat, untuk investasi tabungan, simpanan dana tidak akan mencukupi karena bunga yang diberikan pihak bank tidaklah besar. Ada baiknya Anda menambahnya dengan investasi lain seperti deposito atau properti.

Pentingnya Asuransi pendidikan

Sesuai fungsinya, asuransi pendidikan adalah untuk proteksi. Pemilik asuransi adalah ayah atau ibu yang menjadi pencari nafkah utama. Pemilik asuransi diharuskan membayar premi dalam jumlah dan waktu tertentu sesuai pilihan.

Keuntungannya, pemilik asuransi akan mendapatkan dana tiap kali putra-putri memasuki jenjang pendidikan baru, SD, SMP, SMA, dan PT. Selain itu dana asuransi  akan tetap diberikan jika pemiliknya meninggal dunia dengan tanpa membayar premi lagi.  Sebaliknya dana yang diambil sebelum waktunya akan dikenakan pinalti, diharuskan membayar dalam jumlah tertentu.

Kapan asuransi ini Anda mulai? Sebaiknya sejak usia anak dini. Anda dapat memulai program asuransi ini sejak anak berusia 0 tahun karena premi yang dibayarkan bisa lebih murah ketimbang kalau Anda mengikuti asuransi saat anak sudah lebih besar, premi yang harus dibayarkan akan lebih tinggi. Usia anak dengan batas maksimal 12 tahun dan usia orang tua juga menjadi faktor penentu besarnya premi.

Anda kemudian tinggal menghubungi pihak asuransi. Lalu, berdasarkan rencana Anda, pihak asuransi akan menghitung berapa dana yang diperlukan untuk masing-masing jenjang pendidikan. Dari situ, bisa disimpulkan berapa besar premi yang harus dibayarkan setiap bulan. Pihak asuransi juga akan menghitung dana yang terkumpul dengan premi yang sudah ditentukan.

Contohnya, jika saat ini pendapatan Anda sekitar Rp 5 juta per bulan, asumsikan 10%- nya untuk biaya asuransi pendidikan anak, yaitu sebesar Rp 500 ribu per bulan, atau sekitar Rp 6,5 juta per tahun

Merencanakan Dana Sekolah Anak

Agar pendidikan dan kehidupan anak kelak selalu terjamin, rencanakan dahulu keuangan dari jauh-jauh hari, salah satunya melalui investasi. Ketahui dahulu perkiraan dana yang dibutuhkan sebelum menentukan pilihan investasi.

Ketika anak pertama, Laura, lahir, Amel dan Rafli memutuskan  menyisihkan penghasilan mereka untuk dana pendidikan, mengingat biaya pendidikan terus meningkat. Amel dan Rafli menimbang-nimbang manakah yang terbaik dan manakah yang cocok dengan rencana pendidikan anak mereka. Begitu banyak pilihan. Antara lain asuransi, tabungan pendidikan, tabungan deposito, reksadana,  properti, dan lain sebagainya.

Menurut financial planner, Ligwina Poerwo-Hananto, sebelum menentukan jenis investasi pendidikan, sebaiknya orang tua mengetahui lebih dahulu berapa perkiraan dana yang dibutuhkan. Tak sedikit orang membeli produk tanpa memikirkan manfaat dari tujuan tersebut. Bahkan orang tua cenderung membeli produk karena ditempeli “pendidikan” di belakangnya.

Selain itu, menurut Ligwina, asumsikan biaya pendidikan per jenjangnya. Jenjang pendidikan TK hingga SMA asumsikan mengalami inflasi 20% per tahun sedangkan S1, 15%.

‘’Anak adalah tanggung jawab kita. Jadi harus betul-betul berhitung berapa kebutuhannya di masa depan dengan memilih apakah produk ini sesuai dengan kebutuhannya atau tidak,” paparnya. Ligwina menyarankan sebaiknya orang tua menyiapkan dana pendidikan sejak semasa hamil. Bahkan, pasangan yang mengalami kesulitan memiliki anak juga perlu menyiapkan dana pendidikan karena usia bertambah, sementara belum tahu kapan akan hamil. Jika hamil di usia  lanjut,  jangka waktu usia produktif semakin pendek sementara anak masih kecil.

Strategi Perencanaan Keuangan

Ingin bebas krisis finansial? Ikuti strategi Perencanaan Keuangan dari Ligwina Hananto dalam bukunya "Plan Now"
  1. Biasakan cermat mengelola uang, manfaatkan investasi berkala, tentukan tujuan finansial utama dan tujuan finansial lainnya.
  2. Mulai mengubah dan mengaktifkan uang. Siapkan dana darurat dan dana cadangan, raih tujuan finansial terdekat -jangka pendek dan menengah- serta tambah dana darurat hingga lebih dari 12 bulan.
  3. Alokasi dana pembelian aset aktif. Awali dengan menambah pengetahuan tentang keuangan, mencari lokasi informasi alternatif aset aktif (bisnis, properti, surat berharga) setelah itu baru action.
  4. Menerima pendapatan pasif. Beli aset aktif dan mulailah menerima pendapatan pasif sehingga jumlahnya  - lama-lama -  setara dengan pengeluaran bulanan Anda. Sambil menunggu, teruslah mencari informasi alternatif aset aktif. Anda disebut mencapai tujuan finansial dan bebas secara finansial bila pendapatan pasif Anda lebih besar daripada pengeluaran bulanan. Hore! http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Keluarga/Keuangan/strategi.perencanaan.keuangan

Cara Sederhana Mengelola Keuangan Keluarga

Masalah keuangan adalah hal yang umum dialami keluarga muda, apalagi di tahun-tahun pertama menjalani kehidupan berumahtangga. Belum lagi si kecil tak lama kemudian hadir di tengah Anda dan pasangan. Benarkah masalahnya terletak dari besar-kecilnya pendapatan keluarga?

“Seringkali masalahnya bukan terletak pada penghasilan yang kurang, tapi kebiasaan yang salah dalam mengelola uang,” ungkap Ligwina Hananto, ahli perencanan keuangan dalam sebuah acara Ayahbunda beberapa waktu lalu. Ternyata, dalam kenyataan, seorang ayah yang berpenghasilan ratusan juta rupiah bisa mengalami shock ketika menemukan uangnya tinggal Rp. 500.000,00 sebelum akhir bulan.

Ligwina memberikan beberapa kunci untuk mengelola keuangan secara sederhana:
1.    Pahami portfolio keuangan keluarga Anda. Jangan sampai Anda tak tahu isi tabungan, jumlah tagihan listrik, telepon, servis mobil, belanja, biaya periksa dokter dan lainnya. Anda harus tahu berapa hutang kartu kredit, pinjaman bank atau cicilan rumah dan mobil.
2.    Susun rencana keuangan atau anggaran. Rencana keuangan yang realistis membantu Anda bersikap obyektif soal pengeluaran yang berlebihan. Tak perlu terlalu ideal, sehingga lupa kebutuhan diri sendiri. Tak ada salahnya memasukkan kebutuhan pergi ke salon, spa atau clubbing. Yang penting, anggarkan jumlah yang realistis dan Anda pun harus patuh dengan anggaran tersebut.
3.    Pikirkan lebih seksama pengertian antara “butuh” dan “ingin”. Tak jarang kita membelanjakan uang untuk hal yang tak terlalu penting atau hanya didorong keinginan, bukan kebutuhan. Buatlah daftar berupa tabel yang terdiri dari kolom untuk item belanja, kebutuhan dan keinginan. Setelah mengisi kolom item belanja, isilah kolom “kebutuhan” dan “keinginan” dengan tanda cek (V). Dari sini pertimbangkan dengan lebih matang, benda atau hal yang perlu Anda beli/penuhi atau tidak.
4.    Hindari hutang. Godaan untuk hidup konsumtif semakin besar. Tapi bukan berarti dengan mudah Anda membeli berbagai benda secara kredit. Tumbuhkan kebiasaan keuangan yang sehat dimulai dari yang sederhana, seperti tak memiliki hutang konsumtif.
5.    Meminimalkan belanja konsumtif. Bertemu teman lama untuk bertukar pikiran di kafe terkadang memang perlu, tapi tak berarti Anda harus melakukannya di setiap Jumat sore. Anda bisa gunakan pengeluaran ini untuk menabung atau memenuhi kebutuhan lain.
6.    Tetapkan tujuan atau cita-cita finansial. Susun target keuangan yang ingin Anda raih secara berkala, bersama pasangan. Tetapkan tujuan spesifik, realistis, terukur dan dalam kurun waktu tertentu. Tujuan ini membantu Anda lebih fokus merancang keuangan. Misalnya, bercita-cita punya dana pendidikan prasekolah berstandar internasional dan sebagainya.
7.    Menabung, menabung, menabung. Ubah kebiasaan dan pola pikir. Segera setelah menerima gaji, sisihkan untuk tabungan dalam jumlah yang telah Anda rencanakan sesuai tujuan atau cita-cita finansial keluarga Anda. Sebaiknya, Anda memiliki rekening terpisah untuk tabungan dan kebutuhan sehari-hari.
8.    Berinvestasilah! Tentu Anda tak akan puas dengan hanya menunggu tabungan membumbung. Padahal cita-cita Anda untuk keluarga “selangit”. Inilah saat yang tepat untuk juga memikirkan investasi. Kini bentuknya macam-macam. Takut akan risiko investasi?! Tak perlu khawatir, Anda hanya perlu belajar pada ahlinya. Konsultasikan keuangan Anda dengan ahli keuangan yang handal!  

Sabtu, 19 Maret 2011

Cara Sederhana Mengelola Keuangan Keluarga

Masalah keuangan adalah hal yang umum dialami keluarga muda, apalagi di tahun-tahun pertama menjalani kehidupan berumahtangga. Belum lagi si kecil tak lama kemudian hadir di tengah Anda dan pasangan. Benarkah masalahnya terletak dari besar-kecilnya pendapatan keluarga?

“Seringkali masalahnya bukan terletak pada penghasilan yang kurang, tapi kebiasaan yang salah dalam mengelola uang,” ungkap Ligwina Hananto, ahli perencanan keuangan dalam sebuah acara Ayahbunda beberapa waktu lalu. Ternyata, dalam kenyataan, seorang ayah yang berpenghasilan ratusan juta rupiah bisa mengalami shock ketika menemukan uangnya tinggal Rp. 500.000,00 sebelum akhir bulan.

Ligwina memberikan beberapa kunci untuk mengelola keuangan secara sederhana:
1.    Pahami portfolio keuangan keluarga Anda. Jangan sampai Anda tak tahu isi tabungan, jumlah tagihan listrik, telepon, servis mobil, belanja, biaya periksa dokter dan lainnya. Anda harus tahu berapa hutang kartu kredit, pinjaman bank atau cicilan rumah dan mobil.
2.    Susun rencana keuangan atau anggaran. Rencana keuangan yang realistis membantu Anda bersikap obyektif soal pengeluaran yang berlebihan. Tak perlu terlalu ideal, sehingga lupa kebutuhan diri sendiri. Tak ada salahnya memasukkan kebutuhan pergi ke salon, spa atau clubbing. Yang penting, anggarkan jumlah yang realistis dan Anda pun harus patuh dengan anggaran tersebut.
3.    Pikirkan lebih seksama pengertian antara “butuh” dan “ingin”. Tak jarang kita membelanjakan uang untuk hal yang tak terlalu penting atau hanya didorong keinginan, bukan kebutuhan. Buatlah daftar berupa tabel yang terdiri dari kolom untuk item belanja, kebutuhan dan keinginan. Setelah mengisi kolom item belanja, isilah kolom “kebutuhan” dan “keinginan” dengan tanda cek (V). Dari sini pertimbangkan dengan lebih matang, benda atau hal yang perlu Anda beli/penuhi atau tidak.
4.    Hindari hutang. Godaan untuk hidup konsumtif semakin besar. Tapi bukan berarti dengan mudah Anda membeli berbagai benda secara kredit. Tumbuhkan kebiasaan keuangan yang sehat dimulai dari yang sederhana, seperti tak memiliki hutang konsumtif.
5.    Meminimalkan belanja konsumtif. Bertemu teman lama untuk bertukar pikiran di kafe terkadang memang perlu, tapi tak berarti Anda harus melakukannya di setiap Jumat sore. Anda bisa gunakan pengeluaran ini untuk menabung atau memenuhi kebutuhan lain.
6.    Tetapkan tujuan atau cita-cita finansial. Susun target keuangan yang ingin Anda raih secara berkala, bersama pasangan. Tetapkan tujuan spesifik, realistis, terukur dan dalam kurun waktu tertentu. Tujuan ini membantu Anda lebih fokus merancang keuangan. Misalnya, bercita-cita punya dana pendidikan prasekolah berstandar internasional dan sebagainya.
7.    Menabung, menabung, menabung. Ubah kebiasaan dan pola pikir. Segera setelah menerima gaji, sisihkan untuk tabungan dalam jumlah yang telah Anda rencanakan sesuai tujuan atau cita-cita finansial keluarga Anda. Sebaiknya, Anda memiliki rekening terpisah untuk tabungan dan kebutuhan sehari-hari.
8.    Berinvestasilah! Tentu Anda tak akan puas dengan hanya menunggu tabungan membumbung. Padahal cita-cita Anda untuk keluarga “selangit”. Inilah saat yang tepat untuk juga memikirkan investasi. Kini bentuknya macam-macam. Takut akan risiko investasi?! Tak perlu khawatir, Anda hanya perlu belajar pada ahlinya. Konsultasikan keuangan Anda dengan ahli keuangan yang handal!

2. Cara Sederhana Menyusun Anggaran
Agar pengelolaan keuangan keluarga Anda lebih terencana, Anda perlu menyusun anggaran alias rancangan budget. Dari sini Anda bisa melihat dengan rinci lalu lintas keuangan Anda: pemasukan dan pengeluaran. Berikut ini adalah step-by-step menyusun anggaran secara sederhana:

Tahap 1: Kelola gaji atau penghasilan Anda. Bila Anda dan suami bekerja atau punya usaha, maka penghasilan Anda berdua adalah pemasukan keluarga. Masukkan juga pemasukan dari bukan gaji (rutin), seperti bisnis sampingan, hasil jual-beli properti, dividen saham, bunga deposito dan lainnya.

Tahap 2: Datalah semua pengeluaran sebulan mulai dari pengeluaran rumah tangga sampai keperluan anak dan diri sendiri: listrik, telepon, transportasi (termasuk suku cadang, servis, bensin), anak (uang sekolah, ongkos dan lainnya), pekerja (pengasuh, pembantu, sopir). Jangan lupa memasukkan cicilan hutang (kredit mobil dan KPR), biaya kesehatan, dana untuk pribadi (keperluan diri sendiri dan pasangan).

Tahap 3: Masukkan ke daftar pengeluaran Anda sejumlah uang untuk dana darurat. Ini penting karena dalam keadaan genting, Anda harus bisa menjamin keluarga tetap dapat menjalani hidup dengan layak dari dana ini. Tak kalah penting adalah sejumlah uang untuk ditabung dalam pengeluaran Anda.

Tahap 4: Setelah menghitung jumlah penghasilan dan pengeluaran, hitunglah sisanya. Jika masih ada sisa yang cukup, berarti keuangan keluarga Anda sehat. Waspada bila ternyata keuangan Anda menunjukkan saldo negatif. Pola keuangan kita seringkali memang cukup memalukan untuk diakui. Pendapat Anda kurang?! Belum tentu! Menurut, ahli perencana keuangan Ligwina Hananto, "It's not about how much you earn, but how much you spend". Terdengar sangat akrab dengan situasi Anda?!

Baca:
Cara Sederhana Mengelola Keuangan Keluarga
strategi Perencanaan Keuangan
Memilih Asuransi Kesehatan
Tepat Memilih Asuransi Kesehatan Untuk Balita
Menyiapkan Anggaran Liburan

Kamis, 09 Desember 2010

sukses

Rabu, 01 September 2010

Cara Sederhana Mengelola Keuangan Keluarga

Masalah keuangan adalah hal yang umum dialami keluarga muda, apalagi di tahun-tahun pertama menjalani kehidupan berumahtangga. Belum lagi si kecil tak lama kemudian hadir di tengah Anda dan pasangan. Benarkah masalahnya terletak dari besar-kecilnya pendapatan keluarga?

“Seringkali masalahnya bukan terletak pada penghasilan yang kurang, tapi kebiasaan yang salah dalam mengelola uang,” ungkap Ligwina Hananto, ahli perencanan keuangan dalam sebuah acara Ayahbunda beberapa waktu lalu. Ternyata, dalam kenyataan, seorang ayah yang berpenghasilan ratusan juta rupiah bisa mengalami shock ketika menemukan uangnya tinggal Rp. 500.000,00 sebelum akhir bulan.

Ligwina memberikan beberapa kunci untuk mengelola keuangan secara sederhana:
1.    Pahami portfolio keuangan keluarga Anda. Jangan sampai Anda tak tahu isi tabungan, jumlah tagihan listrik, telepon, servis mobil, belanja, biaya periksa dokter dan lainnya. Anda harus tahu berapa hutang kartu kredit, pinjaman bank atau cicilan rumah dan mobil.
2.    Susun rencana keuangan atau anggaran. Rencana keuangan yang realistis membantu Anda bersikap obyektif soal pengeluaran yang berlebihan. Tak perlu terlalu ideal, sehingga lupa kebutuhan diri sendiri. Tak ada salahnya memasukkan kebutuhan pergi ke salon, spa atau clubbing. Yang penting, anggarkan jumlah yang realistis dan Anda pun harus patuh dengan anggaran tersebut.
3.    Pikirkan lebih seksama pengertian antara “butuh” dan “ingin”. Tak jarang kita membelanjakan uang untuk hal yang tak terlalu penting atau hanya didorong keinginan, bukan kebutuhan. Buatlah daftar berupa tabel yang terdiri dari kolom untuk item belanja, kebutuhan dan keinginan. Setelah mengisi kolom item belanja, isilah kolom “kebutuhan” dan “keinginan” dengan tanda cek (V). Dari sini pertimbangkan dengan lebih matang, benda atau hal yang perlu Anda beli/penuhi atau tidak.
4.    Hindari hutang. Godaan untuk hidup konsumtif semakin besar. Tapi bukan berarti dengan mudah Anda membeli berbagai benda secara kredit. Tumbuhkan kebiasaan keuangan yang sehat dimulai dari yang sederhana, seperti tak memiliki hutang konsumtif.
5.    Meminimalkan belanja konsumtif. Bertemu teman lama untuk bertukar pikiran di kafe terkadang memang perlu, tapi tak berarti Anda harus melakukannya di setiap Jumat sore. Anda bisa gunakan pengeluaran ini untuk menabung atau memenuhi kebutuhan lain.
6.    Tetapkan tujuan atau cita-cita finansial. Susun target keuangan yang ingin Anda raih secara berkala, bersama pasangan. Tetapkan tujuan spesifik, realistis, terukur dan dalam kurun waktu tertentu. Tujuan ini membantu Anda lebih fokus merancang keuangan. Misalnya, bercita-cita punya dana pendidikan prasekolah berstandar internasional dan sebagainya.
7.    Menabung, menabung, menabung. Ubah kebiasaan dan pola pikir. Segera setelah menerima gaji, sisihkan untuk tabungan dalam jumlah yang telah Anda rencanakan sesuai tujuan atau cita-cita finansial keluarga Anda. Sebaiknya, Anda memiliki rekening terpisah untuk tabungan dan kebutuhan sehari-hari.
8.    Berinvestasilah! Tentu Anda tak akan puas dengan hanya menunggu tabungan membumbung. Padahal cita-cita Anda untuk keluarga “selangit”. Inilah saat yang tepat untuk juga memikirkan investasi. Kini bentuknya macam-macam. Takut akan risiko investasi?! Tak perlu khawatir, Anda hanya perlu belajar pada ahlinya. Konsultasikan keuangan Anda dengan ahli keuangan yang handal! 
 

Rabu, 18 Agustus 2010

UANG

Mohon diingat tiga aturan tentang uang :
  • Dapatkan sesegera mungkin
  • Simpan selama mungkin
  • Keluarkan serendah mungkin
Mulai hari ini, marilah perhatikan semua prilaku pembelian kita, dan mulaikah terapkan beberapa aturan sederhana berikut ini :
  • Jangan pernah membeli sesuatu karena ia murah
  • Jangan pernah membeli sesuatu yang tidak membuat Anda lebih berguna bagi orang lain
  • Jangan pernah membeli sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kemampuan Anda menghasilkan uang
  • Jangan pernah membeli sesuatu karena Anda khawatir dilihat tidak kaya
  • Jangan pernah menganggap uang pinjaman sebagai yang tambahan belanja
Jika Anda sudah melakukan semua hal diatas namun pendapatan masih bersaing dengan pengeluaran, saya ucapkan selamat karena memang pengeluaran atau biaya hidup sudah hampir pasti akan berusaha mengalahkan kemampuan Anda menghasilkan income.
Untuk itu mulai sekarang coba Anda check, apakah yang Anda kerjakan sekarang saat ini sudah menggunakan semua kemampuan Anda.  Jangan hanya terlalu fokus untuk mencari uang, namun buatlah diri Anda lebih sibuk dari sebelumnya, dan pastikan kesibukan Anda meningkatkan kualitas diri Anda, dengannya Anda akan dicari uang.
 

Begitu dulu Hesti Agustina.

Terima kasih dan Salam Super,
Mario Teguh

Rabu, 21 Oktober 2009

Mengenal_Inflasi

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi pada bulan Juni adalah sebesar 2,46 persen. Sementara nilai inflasi year on year adalah 11,03 persen.

1. Mengenal istilah inflasi.

Secara sederhana, inflasi berarti Anda harus membayar lebih mahal untuk barang yang hendak Anda beli. Misalkan inflasi bahan bakar premium adalah 33,33 persen, maka harga yang harus Anda bayar untuk setiap liter premium meningkat, dari harga lama Rp. 4.500,- menjadi Rp. 6.000,-.

Dalam ilmu ekonomi, inflasi memang selalu terjadi. Kenaikan harga barang lebih baik daripada penurunan harga barang, karena akan memicu produsen untuk menghasilkan lebih banyak barang. Yang harus dikendalikan adalah berapa besar nilai inflasinya, agar jangan sampai mengganggu daya beli masyarakat.

======================================================================

2. Bersiaplah menghadapi inflasi.

Inflasi berpengaruh terhadap semua barang yang Anda butuhkan: makanan, pakaian, perumahan, air, listrik, gas, kesehatan, pendidikan, rekreasi, transportasi dan lain-lain. Oleh karena itu Anda harus mempersiapkan diri Anda terhadap inflasi.

Bagaimana caranya? Misalkan Anda hendak menyiapkan dana pendidikan untuk anak Anda yang hendak duduk di bangku kuliah dalam waktu 3 tahun mendatang. Misalkan biaya masuk kuliah pada tahun ini adalah Rp. 30.000.000,-, maka Anda dapat memperkirakan bahwa dalam waktu 3 tahun mendatang biaya masuk kuliah akan meningkat menjadi Rp. 39.930.000,- (asumsi inflasi 10% per tahun).

Dengan perkiraan biaya masuk kuliah di masa mendatang, maka jumlah uang yang harus Anda siapkan adalah Rp. 39.930.000,-. Bila Anda tidak memperkirakan inflasi dan hanya menyiapkan Rp. 30.000.000,-, maka Anda akan kekurangan 10 juta pada saat hendak membayar biaya masuk kuliah anak Anda.

======================================================================

3. Nilai tabungan Anda digerogoti oleh inflasi.

Anda juga perlu mengingat bahwa setiap sen yang Anda simpan, daya belinya selalu digerogoti oleh inflasi. Misalkan saja Anda menyimpan Rp. 1.000.000,- sekarang. Kita ambil contoh harga nasi goreng sekarang adalah Rp. 10.000,-. Artinya dengan seluruh tabungan Anda, pada saat ini Anda dapat membeli nasi goreng sebanyak 100 piring. Dalam waktu 3 tahun mendatang harga nasi goreng sudah naik menjadi Rp. 13.000,- karena inflasi. Asumsi tabungan Anda tidak dipotong oleh
biaya administrasi dan tidak mendapatkan bunga, maka dengan total nilai tabungan Rp. 1.000.000,- Anda hanya dapat membeli nasi goreng sebanyak 77 piring. Terjadi penurunan daya beli tabungan Anda sebanyak 23 piring nasi goreng. Hal ini adalah akibat dari inflasi.

Oleh karena itu, bila Anda ingin menabung untuk jangka waktu panjang maka lebih baik Anda membeli produk investasi yang hasilnya lebih tinggi dari inflasi. Misalnya adalah reksadana saham.

Minggu, 27 September 2009

Menghalau Biaya Sekolah Mahal

Ditulis oleh Mike R. Sutikno, CFP
Selasa, 16 Juni 2009 00:00

Setiap orang tua pasti setuju bahwa pendidikan mempunyai peranan besar terhadap masa depan anaknya. Sehingga demi mendapatkan pendidikan yang terbaik, maka menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang pendidikan yang paling tinggi adalah salah satu cara agar si anak mampu mandiri secara finansial nantinya. Namun mahalnya biaya pendidikan saat ini ditambah lagi dengan naiknya biaya pendidikan dari tahun ketahun seringkali membuat orang tua tidak mampu menyediakan dana pendidikan tersebut pada saat dibutuhkan.

Kehilangan pekerjaan dan penghasilan akibat bangkrutnya perusahaan – perusahaan yang kemudian berbuntut PHK atau dikarenakan karena ketidak pastian kondisi ekonomi juga turut menjadi penyebab ketidaksiapan orang tua dalam menyiapkan dana pendidikan anak. Bagaimana jika kehilangan penghasilan tersebut karena meninggal , sakit parah, atau kecelakaan yang menyebabkan cacat ? Siapa yang akan membayar biaya pendidikan anak Anda nanti ?

Tingginya biaya pendidikan saat ini , naiknya biaya pendidikan dari tahun ke tahun, resiko terhentinya penghasilan karena kehilangan pekerjaan atau karena meninggal atau sakit adalah sebab – sebab utama mengapa orang tua perlu mempersiapkan dana pendidikan anak sejak dini. Dengan demikian Anda akan mempunyai waktu yang lebih panjang untuk mempersiapkannya. Jika memiliki waktu persiapan yang cukup maka akan semakin mudah bagi Anda untuk mencapai target dana pendidikan yang ingin dicapai.

Berikut langkah-langkah, menghitung kebutuhan dana pendidikana anak, sbb :
1.Hitunglah berapa jumlah total dana tunai atau harta yang segera bisa diuangkan saat ini. Contoh tabungan, deposito, emas, reksa dana, saham, dan yang setara
2.Hitung berapa kebutuhan dana pendidikan anak-anak Anda tiap jenjang pendidikan. Contoh : untuk anak yang sudah kelas III SMA , maka jenjang pendidikan berikutnya adalah persiapan biaya masuk perguruan tinggi. Sedangkan untuk anak-anak yang masih di bangku SMP, maka harus dihitung biaya masuk SMA dan uang pangkal perguruan tinggi. Jumlahkan total keseluruhannya.
3.Hitung selisih antara total tersedianya dana dengan total kebutuhan dana. Jika terjadi selisih lebih berarti biaya pendidikan anak sudah tercover. Jika terjadi selisih kurang, maka lanjutkan ke langkah ke 4
4.Untuk mengatasi kekurangan dana pendidikan anak, maka ada dua solusi yang bisa dilakukan yaitu : 1) berusahalah melakukan penghematan dengan mengurangi biaya pendidikan agar dana yang tersedia cukup. Mungkin bisa dicari sekolah yang lebih terjangkau dengan kualitas yang sama tidak jauh berbeda ; 2) berusaha mengcover kekurangan dana pendidikan dengan melakukan investasi. Jika belum memiliki investasi dana pendidikan anak, Anda bisa mempersiapkannya dengan mengikuti program tabungan atau asuransi pendidikan.

Halau biaya sekolah mahal dengan menabung sejak dini. Ingat , makin panjang waktu menabungnya makin ringan setoran tabungannya makin besar akumulasi tabungannya.

Pensiunlah Sejak Hari Pertama Kerja !

Ditulis oleh Mike R. Sutikno, CFP
Selasa, 23 Juni 2009 00:00
Umumnya selama masa kerja, seorang karyawan wajib mengikuti program pensiun untuk persiapan pensiunnya. Jadi tiap bulan otomatis dipotong dari rekening gajinya sejumlah tertentu kemudian di setorkan ke rekening pensiun. Ketika masa pensiun tiba dan berhenti juga setoran investasi pensiun, maka selanjutnya tibalah saat untuk mengambil dana pensiun. Biasanya dana pensiun diambil secara rutin bulanan, tujuannya untuk mencover pengeluaran rutin rumah tangga setelah pensiun. Pengeluaran rutin ini contohnya seperti belanja dapur, tagihan telpon, listrik, uang saku anak sekolah, gaji pembantu,dll. Program pensiun ini bisa di buat oleh perusahaan sendiri atau mengikuti program Jaminan sosial tenaga kerja. Jika seorang karyawan ternyata belum mengikuti program pensiun dari perusahaan pemberi kerja maupun dari Jamsostek, maka dirinya masih bisa mengikuti program pensiun dari bank atau perusahaan asuransi.

Dari konsep program pensiun sendiri dapatlah ditarik kesimpulan bahwa program pensiun ditujukan untuk membiayai pengeluaran rutin biaya hidup setelah pensiun. Jadi jika sebelum pensiun pengeluaran rutin rumah tangga di biayai dari gaji, maka setelah pensiun dibiayai dari dana pensiun. Menggunakan penghasilan pensiun untuk tujuan lain misalnya membayar uang pangkal sekolah anak, membeli mobil, dll. Akan menyebabkan pengeluaran rumah tangga setelah masa pensiun tidak bisa di penuhi. Karena itu agar kebutuhan hari tua Anda tercukupi, prioritaskan dana pensiun Anda untuk pengeluaran rutin bulanan rumah tangga. Nah sekarang tinggal memastikan apakah Anda sudah secara otomatis telah mengikuti program pensiun dari perusahaan, jamsostek atau lembaga keuangan lainnya. Jika belum, segeralah mengikuti salah satu program pensiun seperti tersebut diatas. Sumber dana untuk setoran investasi pensiun ini bisa di potong langsung dari gaji Anda saat ini.

Usia rata-rata pensiun pegawai di Indonesia adalah 55 tahun, sehingga Anda masih mempunyai waktu 5 tahun lagi sebelum gaji Anda berhenti. Namun penghasilan tidak harus dari gaji bukan ? Karena itu usia pensiun bukanlah ”harga mati”. Jika selama menjadi karyawan Anda terikat pekerjaan, maka dengan pensiun tibalah saat kebebasan melakukan yang benar-benar Anda inginkan. Pertimbangkanlah untuk segera merintis usaha sendiri yang bisa menjadi penghasilan di masa pensiun nanti. Pililhlah bidang-bidang usaha yang Anda minati dengan kebutuhan modal yang relatif kecil. Sebagai pemula Anda tidak perlu bekerja sendiri, namun bisa juga bergabung dengan usaha lain yang sudah berhasil. Misalnya membeli franchise yang saat ini banyak ditawarkan dengan jumlah investasi yang kecil saja. Jika Anda rintis sejak sekarang, mudah-mudahan 5 tahun lagi ketika Anda pensiun, usaha tersebut sudah berjalan dengan sendirinya dan bisa memberikan penghasilan pensiun kepada Anda.

Janganlah masa pensiun disamakan dengan pengangguran, sebab Anda tidak akan benar-benar bisa menikmati hidup jika tidak berkarya. Beraktifitas membuat fisik kita lebih sehat sambil mengasah tingkat intelektualitas kita . Nah, kalau dari aktifitas tersebut malah menghasilkan penghasilan di masa pensiun nanti, tentunya menjadi bonus yang sangat menyenangkan bukan. Nah tunggu apa lagi, ayo siapkan pensiun sejak hari pertama kerja.

Kamis, 24 September 2009

Rumahku Kantorku

Ditulis oleh Mike Rini Sutikno CFP
Masyarakat dunia saat ini mengalami gejala cocooning ( kokon, kepompong). Mereka lebih suka melakukan hampir semua aktifitasnya dari rumah. Terutama dalam melakukan pekerjaan mereka. Nampaknya ide berangkat kerja saat Subuh dan pulang kantor setelah Magrib , benar-benar meletihkan jiwa dan raga. Terutama di kota-kota besar , contohnya Jakarta . Anda akan terkejut jika menghitung berapa banyak waktu tersia-sia karena jalanan yang super macet. Orang-orang semakin ingin mandiri,mereka menginginkan suatu kebebasan pribadi dan berharap lebih banyak memiliki pilihan dalam hidup ini.

Pada dasarnya semua orang adalah malas, dan jika dimungkinkan orang akan memilih sesuatu kenyamanan dan menghindari sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman, untuk beberapa alasan sederhana :
- Orang semakin ingin dekat dengan keluarga.
- Orang ingin punya usaha sendiri yang memungkinkan adanya sumber pendapatan yang lebih baik.
- Orang ingin menekuni sebuah hobi sendiri.
- Orang ingin menghindari stress.
- Orang ingin menghindari kemacetan.

Bekerja di rumah sendiri, tanpa harus macet dijalanan, bisa istirahat kapan saja, mulai kapan saja, sambil menikmati televisi, bercanda dengan keluarga, sambil melakukan hobi, mempunyai waktu untuk olahraga. Dan banyak lagi kelebihan yang lain yang perlu dipertimbangkan, kalau anda bekerja dari rumah. menjalankan bisnis dari rumah.

Tentu saja dibalik semuanya itu ada harga yang harus dibayar, ada usaha yang perlu dilakukan. Berbisnis dari rumah bukanlah sulap yang bisa memberikan banyak uang dalam semalam. Anda harus melakukan kerjanya dan mempunyai informasi bagaimana melakukannya.


Home Head Office or Home Branch Office

Tidak semua jenis bidang pekerjaan dan memang masih jarang perusahaan yang sudah melaksanakan konsep bekerja dari rumah. Para pekerja lapangan dan mereka dengan profesi yang mengharuskannya berpindah-pindah, bahkan nyaris tidak pernah berada di rumah.

Kemajuan tehnologi informasi memungkin kita untuk terkoneksi dimana saja kapanpun juga. Anda bisa tetap menyelesaikan berbagai macam tugas-tugas kantor tanpa harus hadir di kantor. Mulailah berpikir bahwa rumah anda adalah kantor cabang dari perusahaan tempat bekerja. Sewaktu-waktu jika diperlukan anda tentunya harus memenuhi jadwal meeting atau menyelesaikan berbagai urusan administrasi lainnya yang memerlukan kehadiran anda ke kantor pusat. Selebihnya anda harus bekerja full time di tempat anda ditugaskan di kantor cabang , alias rumah anda. Jika perusahaan tempat anda bekerja mengijinkan hal ini, maka anda bisa menjadi pegawai rumahan.

Para pekerja mandiri, pekerja paruh waktu dan pekerja seni umumnya memiliki lebih banyak kebebasan pribadi untuk mengatur waktu bekerja dan dimana pekerjaan tersebut ingin dilakukan. Contoh, konsultan, pengajar, artis, atau penulis – kita bisa menyebut mereka profesional rumahan.

Yang menyenangkan adalah jika anda memutuskan untuk membuat rumah anda menjadi kantor pusat anda. Disini anda tidak hanya bekerja dari rumah tetapi menjalankan bisnis sendiri dari rumah. Hampir segala kegiatan operasional dan keputusan-keputusan penting usaha di lakukan dikantor pusat ini. Karena anda menjalankan usaha dari rumah , maka anda memilih menjadi pemilik bisnis rumahan

Intinya hampir semua pekerjaan dapat dilakukan dari rumah, anda hanya tidanggal memilih apakah akan menjadi pegawai rumahan, profesional rumahan atau pemilik bisnis rumahan.


Tips Bekerja Dari Rumah

Ketika anda memulai bekerja dari rumah, anda harus menguasai dengan cepat berbagai keterampilan sekaligus. Mulai dari pemasaran, penjualan, berhubungan dengan pelanggan, manajemen waktu, perencanaan bisnis, pengelolaan keuangan. Bukan itu saja, anda pun masih dituntut untuk memberikan produk dan jasa yang terbaik. Ditambah lagi, anda mesti menyeimbangkan urusan rumah tangga dengan pekerjaan. Mungkin dari pengalaman kerja sebelumnya sudah memberikan sejumlah informasi bagaimana menjalankan usaha. Jika belum, beberapa tip berikut ini dapat anda jadikan panduan mengenai hal apa saja yang harus anda pahami agar bekerja dari rumah dapat anda lakukan dengan optimal :
• Tentukan jam kerja anda
Bekerja tanpa patolan jam kerja, dan melakukan apapun semau anda adalah ide buruk. Anda tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan apapun jika anda tidak memiliki disiplin waktu kerja. Tentukan berapa jam kerja yang harus anda patuhi, atau tentukan kapan ” jam masuk dan jam pulang kerja”. Bisa jadi jam kerja memang tidak beraturan, tapi secara keseluruhan harus memenuhi maksimum target jam kerja per minggu.
• “Result Oriented” not “Rule Oriented”
Bekerja sendiri di rumah terkadang bingung dalam membuat milestone ini atau target pencapaian. Terlebih jika punya beberapa pekerjaan yang harus berjalan secara “multi-tasking”. Tanpa menentukan milestone ini, mustahil kita akan mencapai “Result Oriented” yang maksimum., bukan hanya sekedar memenuhi jam kerja perminggu tadi alias “Rule Oriented”.
• Atmosfir kerja yang nyaman
Bekerja dari rumah bukan berarti bebas gangguan. Anda tidak akan bisa bekerja jika anak-anak merengek seharian, tempat kerja yang sumpek , atau sulit menemukan file penting karena segala sesuatu tidak beraturan. Tentukan ruangan di rumah yang akan anda pakai bekerja dan tidak boleh sembarang orang masuk melakukan aktifitas disitu. Juga tentukan waktu kapan melakukan tugas rumah tangga dan kapan melakukan pekerjaan.
• Hati-Hati Mood
Menunggu mood untuk bekerja , sama saja dengan menunggu bintang jatuh. Jangan mentang-mentang di rumah dan tidak ada yang mengawasi, anda kemudian bisa menunda pekerjaan. Menonton TV dulu, berlama-lama membaca koran, atau ngegosip dengan tetangga, supaya ”mood”. Anda bisa istirahat sejenak jika keletihan, di luar itu kendalikan mood anda.
• Social Life
Memanjangkan tali silaturahmi membuka pintu rejeki. Bekerja dari rumah bukan anda terkungkung . Apalagi networking sangat penting untuk karir dan bisnis anda. Perluas pergaulan jangan hanya di sekitar rumah saja atau jangan merasa cukup dengan mengikuti diskusi di berbagai milis dunia maya. Pertemuan tatap muka dengan teman-teman seprofesi atau orang lain di luar bidang pekerjaan anda akan memperluas wawasan anda.

7 Langkah Menabung Mudah!

Ditulis oleh Mike Rini Sutikno CFP
Sabtu, 07 Maret 2009 00:00
Betapa menyenangkannya hidup ini jika kita bisa membeli apa saja yang kita inginkan. Mungkin gadget model terbaru, sepasang sepatu, home theatre atau sekedar ngopi-ngopi di cafe. Jika hal itu kurang menarik buat anda, bagaimana dengan dana pendidikan anak, persiapan pensiun, atau barangkali naik haji bersama pasangan tercinta. Nah semuanya itu dapat kita capai asalkan kita rajin menabung. Masalahnya banyak orang masih saja sulit menabung dengan berbagai alasan. Biasanya orang mengeluh gajinya terlalu kecil , sehingga tak ada lagi yang bisa ditabung. ” Boro-boro nabung, buat kebutuhan sehari-hari saja susah !”. Kalau perusahaan mau menaikkan gaji saya , pasti saya bisa nabung.

Padahal menabung itu tidak sulit. Menabung itu mudah. Yang harus anda lakukan adalah menyisihkan sedikit saja dari penghasilan anda secara teratur. Nah, dimana sulitnya melakukan hal itu ? Harus kita akui bahwa orang cenderung memilih kenikmatan berbelanja saat ini, dibandingkan menyimpan uang untuk kepentingan masa depan. Sebab memiliki uang namun tidak boleh menggunakannya pasti menyiksa. Inilah mengapa rencana menabung gagal di tengah jalan . Sebab kita sendiri yang melanggarnya.

Karena itu kita harus menjalankan cara-cara yang menyenangkan dan mudah untuk menabung, berikut ini beberapa saran untuk melakukan hal itu :
1. Jangan pernah menggunakan kata menabung. Ganti setiap kata menabung dengan berbelanja. Jadi tiap bulan anda tetap berbelanja, Cuma belanjaannya adalah tabungan di bank.
2. Masukkan alokasi tabungan anda ke dalam anggaran pengeluaran keluarga. Sehingga tiap bulan anda secara otomatis belanja tabungan , layaknya belanja bulanan ke supermarket.
3. Menabunglah diawal. Jangan pernah menyisakan uang untuk menabung, sebab hal itu mustahil ! Gunakan fasilitas autodebet di bank yang memotong langsung rekening gaji anda begitu tanggal gajian. Sehingga anda tidak menunggu sisa uang untuk ditabung, dan tidak perlu repot ke bank.
4. Menabung ke emas. Menabung tidak identik dengan tabungan atau deposito di bank. Anda bisa menabung ke emas, dan mendapatkan return lebih tinggi. Hanya anda harus hati-hati menyimpannya
5. Dapatkan hasil lebih tinggi. Bunga tabungan kecil, sehingga dana dalam tabungan lambat berkembang. Gunakan reksadana yang menjamin keberadaan nilai uang atau obligasi pemerintah ritel seperti ORI dan Sukuk Ritel.
6. Miliki tujuan keuangan dalam menabung. Menabung tanpa tujuan tertentu akan membuat anda tergoda untuk menggunakan uang tabungan tersebut sebelum tujuan tercapai. Sementara dengan tujuan akan mencegah anda menggunakan uang tabungan tersebut sebelum dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan keuangannya tercapai.
7. Menabunglah dalam jumlah kecil tapi rutin. Jangan memaksa menabung dalam jumlah besar yang memberatkan. Jangan menunggu punya banyak uang, mendapat warisan, atau memenangkan lotere – baru menabung. Itu sulit terjadi. Menabunglah tidak mensyaratkan sejumlah uang tertentu. Menabunglah sesuai dengan kesanggupan bahkan jika itu uang recehan sekalipun.

Selasa, 15 September 2009

Membagi Modal Usaha

oleh: Ahmad Gozali

Dikutip dari Republika, 01 Maret 2009

Assalamualaikum Wr Wb

Selamat Pagi Pak Gozali,
Saya mohon pendapat dari Bapak mengenai pembagian keuntungan usaha, yang mengacu pada masalah saya di bawah ini:
Calon mertua saya mendapatkan tawaran untuk berjualan stan makanan di salah satu departement store di kota kami tinggal, beliau menginginkan saya untuk menyediakan modalnya. Jadi, beliau yang akan mengolah stan itu dengan dibantu dua karyawan.
Bagaimana cara pembagian hasil usaha yang saling menguntungkan bagi saya sebagai penyedia modal dan calon mertua saya sebagai pengelola stand tersebut.

Terima kasih,

Efi

Jawaban:

Waalaikumussalam Wr Wb

Normalnya sih, pemberi modal yang tidak melakukan apa pun akan mendapatkan bagian yang lebih kecil daripada yang bekerja. Mengapa? Karena pemberi modal kan tidak keluar keringat, tidak bersusah payah untuk memantau, melayani pembeli, dan banting tulang membesarkan usaha. Jadi, wajar dong kalau yang bekerja setidaknya mendapatkan bagian yang lebih besar, karena dia tidak digaji.

Ingat ya, kalau pengelola usaha tidak digaji, maka biasanya pengelola usaha yang mendapatkan bagi hasil yang lebih besar.

Untuk besaran pastinya sih, tidak pernah ada rumusan baku, ya. Ada yang 55:45, bisa 65:35, ada yang 70:30 bahkan 85:15. Kok, bisa beda? Karena ini tergantung banyak hal dan faktor. Misalnya begini, apakah seluruh modal benar-benar dari Anda, atau sebenarnya calon mertua juga punya bagian? Lalu, seberapa besar Anda dan calon mertua akan menghargai 'tenaga' sebagai modal? Lalu, apakah bagi hasil tersebut dihitung setelah dikurangi biaya-biaya atau belum? Bagaimana dengan konsekuensi kerugian? Banyak hal lainnya.

Karena itu, saran saya adalah coba diskusikan kembali dengan calon mertua Anda terutama mengenai prospek bisnis ini dan bagi hasil yang layak untuk diberikan.

Kalau mau hitung-hitungan, coba deh lakukan simulasi. Kalau diberikan modal Rp A, maka keuntungannya adalah Rp B. Sedangkan Anda ingin untung Rp C dan calon mertua ingin untung Rp D. Dari situ kemudian bisa dihitung berapa persen bagi hasil yang Anda inginkan dan berapa persen yang diinginkan oleh pengelola usaha tersebut. Kalau hitungannya tidak sinkron, barulah terjadi tawar-menawar. Dalam bisnis, tawar-menawar itu normal dan biasa, tidak perlu merasa sungkan.

Sebagai tambahan, ada baiknya sebelum menjalankan suatu usaha kita sudah memperkirakan apa saja konsekuensinya. Mulai dari untung sebesar-besarnya, rugi sebesar-besarnya hingga hubungan tidak harmonis dengan pihak tertentu. Biasanya untuk menghadapi dan menghindari konsekuensi terburuk hal ini, apalagi jika itu kenalan baik atau saudara, perlu ditegaskan kembali sejak awal bahwa hubungan bisnis yang akan dijalani adalah profesional. Bahkan untuk beberapa pihak hubungan ini perlu ditegaskan dalam bentuk surat perjanjian.

Namun, jika memang Anda belum bisa melakukan hal tersebut, ada baiknya Anda juga mempersiapkan diri dari awal untuk merelakan uang Anda. Bukan berarti Anda tidak berusaha memantau ya. Hanya saja, yang mengajak Anda bekerja sama adalah 'calon' mertua, yang mungkin hubungannya akan menjadi sangat kompleks jika terjadi kegagalan dalam bisnis. Dan, Anda juga akan lebih tenang kalau memang sudah tahu segala konsekuensinya dari awal.

Salam.
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan

FINANCIAL PLAN © 2008. Design by :vio Templates Sponsored by: gold bola